Showing posts with label Mental. Show all posts
Showing posts with label Mental. Show all posts

Saturday, May 16, 2015

Pelukan Ayah Membuat Anak Mandiri

JEGEG-BEAUTY, Pelukan memang terkesan sebagai hal sepele. Namun, nyatanya banyak manfaat yang bisa didapat dari pelukan. Tak hanya memberi rasa aman, tapi juga bisa mentransfer keberanian dan kemandirian pada anak lho. Bisa dibilang, pelukan adalah salah satu wujud kasih sayang dalam bentuk sentuhan fisik yang mudah dilakukan. Inilah mengapa, para orangtua  perlu menjadikan pelukan sebagai  bagian dari rutinitas sehari-hari.

Sayangnya, meski terbilang mudah, tak semua orangtua terbiasa memeluk anak-anaknya. Jika orangtua tak membiasakan memberi pelukan sejak anak-anaknya kecil, jangan heran jika sampai dewasa, mereka justru merasa tak nyaman saat dipeluk.

Biasanya, yang tak terbiasa memberikan pelukan pada anak-anak adalah para ayah. Menurut Melly Puspita Sari, S.Psi., MT, NLP, bisa jadi, ayah yang sulit memeluk dulunya juga mungkin jarang dipeluk. "Karena si ayah tumbuh dan berkembang jarang dipeluk, ia akan melakukan hal yang sama kepada anaknya. Tetapi kalau ia biasa dipeluk, ia juga akan memeluk anaknya," ujar psikolog lulusan Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Hasil sejumlah penelitian, dipaparkan penulis buku 'The Miracle of Hug' ini, menunjukkan kalau pelukan antara orangtua dan anak dapat meningkatkan kecerdasan otak, merangsang keluarnya hormon oksitosin yang memberikan perasaan tenang pada anak, serta memberi dampak positif pada perkembangan anak. Yang tak kalah penting, pelukan membuat anak merasa dicintai dan dihargai.

Menariknya lagi, pelukan dari masing-masing orang tua akan mentransfer hal luar biasa pada anak. Masing-masing akan mentransfer sifat tertentu pada anak, sehingga anak akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat.

"Saat ayah memeluk, sesungguhnya ia mentransfer kemampuan kemandirian. Ayah mentransfer aspek berani untuk berinteraksi dengan figur otoritas yang ada di luar rumah," terang Melly. Anak-anak ini akan lebih kuat saat berada di luar rumah. Sebaliknya, anak-anak yang mendapat kekerasan dalam rumah tangga, cenderung menjadi penakut saat berada di luar rumah.

Sedangkan, ketika ibu memeluk, sifat empati akan tersalurkan kepada anak. "Ibu adalah figur afeksi, yang ketika anak sakit, ia akan merawat dan memeluk anak untuk menyamankan," imbuh Melly.

Nah, jika belum terbiasa, yuk segera membiasakan diri memberi pelukan hangat pada anak. Agar anak tumbuh menjadi pribadi penyayang, pintar, dan mandiri.

Tuesday, April 21, 2015

Sindrom "Baby Blues" Menyerang Ayah Baru

JEGEG-BEAUTY, Bagi Kevin Shafer, kehidupannya di tahun 2008 baik-baik saja. Pria berusia 27 tahun ini memiliki karier dalam bidang akademik, menikah, dan menanti anak pertamanya. Ia memiliki sejarah depresi, tetapi dapat dikendalikan. "Aku sedang dalam kondisi yang baik-baik saja," katanya.

Kemudian, istrinya melahirkan seorang anak laki-laki. "Aku melihatnya di ruangan rumah sakit, dan aku panik," cerita Shafer yang merupakan asisten profesor pekerjaan sosial di Brigham Young University, Utah, Amerika Serikat.

"Tiba-tiba aku merasakan banyak sekali tekanan untuk menjadi lebih baik lagi dalam pekerjaan, berperan menjadi ayah, dan menjadi suami yang baik. Semua hal itu benar-benar membuatku kewalahan di saat yang sama," lanjutnya.

Bukannya merasa bahagia dengan kelahiran putranya, Shafer justru lebih banyak berdiam diri, bahkan merasa sangat takut untuk menggendong dan takut untuk melakukan apa pun. "Seperti lumpuh," katanya.

Penelitian menunjukkan bahwa 5 dari 10 ayah baru mengalami depresi, dibandingkan sekitar 15 persen dari ibu baru. Penelitian lainnya yang dipublikasikan dalam Pediatrics menjabarkan, gejala depresi ayah baru meningkat rata-rata 68 persen selama lima tahun pertama kehidupan anak mereka.

"Dulu kita mengira depresi pascakelahiran merupakan proses biologis dan hormonal yang hanya mempengaruhi wanita. Ternyata, bukan hanya wanita saja. Ada faktor biologis, psikologis, dan sosial,"  ujar David Diamond,direktur Center for Reproductive Psychology di San Diego, AS.

Menderita diam-diam
Pria dengan riwayat kondisi mental memiliki risiko lebih tinggi depresi setelah menjadi ayah.
"Bagi beberapa ayah baru, kurang tidur, kurang kontrol, serta kurangnya rutinitas cukup untuk membuat mereka menjadi depresi," papar Dr. Craig Garfield yang memimpin studi Pediatrics soal gejala depresi.

Orangtua yang memiliki peran ganda risikonya juga lebih besar mengalami depresi. Berdasarkan sebuah penelitian pada tahun 2013 dari 6.000 lebih keluarga, ayah tiri dengan anak baru dan anak biologis yang tidak tinggal satu atap memiliki risiko tertinggi.

"Mereka merasa seperti tertarik dalam arah yang berbeda karena tidak banyak orang di sekelilingnya yang menjadi ayah biologis yang tak punya tempat tinggal," ucap Shafer.

Ayah baru dapat pula rentan terhadap depresi karena kekurangan dukungan sosial yang biasanya lebih sering didapatkan para wanita.

"Orang-orang akan mendatangi wanita hamil di jalan dan menanyakan kabar mereka, serta membahas tentang kehamilan mereka sendiri dan hal lainnya. Ayah tidak sering mengalami itu. Ayah bisa menderita secara diam-diam karena tidak ada manifestasi dari kehamilan ini," terang Shafer.

Kurangnya dukungan dari lingkungan sosial akan membuat seseorang lebih stres dan depresi. Parahnya, para pria biasanya tak pernah terbuka menceritakan masalahnya dan berusaha terlihat tangguh.

Hal yang semakin memperburuk situasi, ahli kesehatan mental sering mengabaikan depresi pascakelahiran pada pria karena gejalanya tidak selalu terlihat sama seperti wanita.

Gejala depresi, bisa mewujud menjadi perasaan tidak berharga, sedih, atau bahkan somatik seperti kegelisahan atau tidur banyak, serta perubahan selera makan. Tapi pada pria gejalanya sering tidak seperti itu.

Pria lebih sering merasa mudah tersinggung atau marah, menyalahgunakan obat-obatan atau alkohol, menghindari keluarga dengan menghabiskan waktu di kantor atau bersama teman.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk melewati kesedihan tersebut. Berbicara dan mencurahkan perasaa pada orang yang dipercaya adalah salah satunya.

Mengambil cuti selama beberapa hari setelah kelahiran anak dan juga berusaha menghabiskan waktu lebih banyak untuk membantu istri juga dapat membantu mengurangi perasaan tidak berarti