Showing posts with label Tempe. Show all posts
Showing posts with label Tempe. Show all posts

Friday, April 3, 2015

Tempe Makanan Pendukung Ibu Menyusui

JEGEG-BEAUTY, Tempe sebagai sumber daya lokal serta warisan budaya berpotensi menjadi sumber gizi untuk menekan kasus kurang gizi. Untuk itu, tempe perlu dijadikan sebagai unsur makanan pendukung air susu ibu bagi bayi sejak usia enam bulan.

Anggota Komisi Ilmu Rekayasa Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Purwiyatno Hariyadi memaparkan hal itu di Jakarta, Kamis (4/12). ”Tempe sebagai makanan asli Indonesia bisa digunakan untuk mengatasi masalah anak stunting (bertubuh pendek),” katanya.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi pendek di Indonesia pada 2013 mencapai 37,2 persen, meningkat dibandingkan tahun 2010 (35,6 persen) dan 2007 (36,8 persen). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), masalah kesehatan masyarakat dianggap berat jika prevalensi pendek 30-39 persen.

Menurut Purwiyatno, potensi pemanfaatan tempe kuat karena dari berbagai hasil riset, tempe mengandung zat bergizi, seperti protein dan zat besi. Jadi, pemberian tempe perlu sedini mungkin, disertakan dalam makanan pendukung air susu ibu (MP ASI) pada bayi enam bulan yang sudah tak dalam masa ASI eksklusif.

Terkait hal itu, orangtua sebaiknya mengutamakan sumber makanan alami dibandingkan MP ASI buatan pabrik. Makanan pendamping ASI adalah makanan atau minuman bergizi yang diberikan kepada bayi usia 6-24 bulan. Seiring bertambahnya usia, ASI kian tak memadai untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi.

Selain itu, pemberian tempe sejak dini akan membuat bayi mengenal dan terbiasa dengan rasa tempe sehingga konsumsi tempe membudaya. Hal itu penting agar tempe tetap jadi kekayaan milik bangsa Indonesia.

”Tempe terbukti bagus sejak dulu, kenapa tak diberikan sejak dini,” ujar Purwiyatno. Jika menimbulkan masalah kesehatan, tempe seharusnya tak bertahan hingga ratusan tahun.

Nilai tambah

Jika telah membudaya, teknologi pengolahan tempe bisa berkembang lebih jauh sehingga meningkatkan nilai tambah produk makanan itu. Menurut Purwiyatno, dengan potensi manfaat kompleks, tempe bisa dijadikan produk bentuk lain, seperti obat dan kosmetik, lewat proses rekayasa teknologi.

Peneliti tempe sekaligus guru besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Mary Astuti, mengungkapkan, sejak puluhan tahun lalu, tempe diteliti untuk menemukan potensi khasiat bagi kesehatan. Potensi itu antara lain untuk pencegahan serta penanganan diare, anemia, dan anti kanker.

Ia mencontohkan, di Yogyakarta, tempe diberikan selama pengobatan diare pada anak. ”Di Rumah Sakit Sardjito dan Rumah Sakit Wirosaban, bubur tempe diberikan untuk mempercepat penyembuhan diare anak-anak yang dirawat,” ucapnya.

Ketua Komisi Ilmu Rekayasa AIPI FG Winarno meminta agar hasil-hasil riset tempe dikoleksi dan diarsipkan. Itu untuk menunjukkan kekayaan kandungan tempe serta memudahkan proses riset lanjutan guna meningkatkan nilai tambah temp

Sunday, March 22, 2015

Tempe dan Bayam Juga Kaya akan Gizinya

JEGEG-BEAUTY, Banyaknya informasi soal pentingnya pemenuhan gizi seimbang untuk anak membuat beberapa orang tua lebih percaya pada bahan makanan impor dari luar negeri. Padahal menurut dokter anak, banyak bahan makanan asli Indonesia yang kaya akan gizi.

Dr dr RA Setyo Handryastuti, SpA(K), Ketua UKK Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan bahwa banyak ibu-ibu modern yang sudah melek informasi soal pentingnya pemenuhan gizi seimbang. Ikan salmon dan brokoli memang populer karena mengandung banyak nutrisi.

"Tapi kan nggak harus selalu salmon atau brokoli. Untuk protein kan bisa pakai tahu dan tempe. Sementara brokoli bisa diganti bayam," tutur dr Handry dalam temu media 100 Tahun Wyeth Nutrition di Hotel Ritz-Carlton, Jl IDE Anak Agung, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (12/2/2015).

Hal senada juga dikatakan oleh dr Endang D Lestari, SpA(K), MPH, Ketua UKK Gizi dan Penyakit Metabolik IDAI. Informasi yang banyak soal kesehatan bayi dan balita tak harus selalu dipraktikkan mentah-mentah.

"Seputar ASI saja banyak informasinya. Memang ASI sumber makanan dan nutrisi paling baik untuk 6 bulan pertama. Tapi kalau setelah itu hanya ASI 'tok' saja tidak akan cukup," ungkapnya.

Untuk itu mengatakan ibu-ibu modern saat ini harus kreatif dalam memilih dan mengatur menu makanan anak. Apalagi jika ibu bekerja, tentunya diperlukan upaya lebih agar kebutuhan nutrisi anak tetap maksimal

dr Handry sedikit menyentil soal banyaknya ibu-ibu yang bekerja hanya mempercayakan kecukupan nutrisi anaknya kepada pengasuh. Pengasuh menurutnya, mungkin saja mempunyai pengetahuan yang kurang soal bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.

"Kalau ibunya niat kan bisa disiapkan lebih awal. Ada pasien saya yang ibunya bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan 3 porsi makanan, untuk pagi, siang dan malam. Jadinya nanti pengasuh tinggal menghangatkan saja," tuturnya.