Showing posts with label asap. Show all posts
Showing posts with label asap. Show all posts

Monday, May 11, 2015

Asap Dapur Juga Berbahaya Bagi Kesehatan

JEGEG-BEAUTY, Tak hanya asap rokok hingga kendaraan bermotor, asap dari dapur rumah pun bisa berbahaya bagi kesehatan, khususnya organ pernapasan. Siasati dengan sistem ventilasi yang baik.

Untuk menghindari asap saat memasak di dapur, aktris Lula Kamal memilih peralatan masak yang dapat menyerap asap.  Menurut presenter yang juga seorang dokter ini, asap yang dihasilkan saat memasak mengandung zat yang tidak sehat jika dihirup.

"Hasil pembakarannya ini bisa bermasalah bagi sistem pernapasan yang harusnya tidak menghirup asap. Bisa iritasi saluran pernapasan, pneunomia hingga kanker," katanya dalam acara peluncuran peralatan dapur Fotile di Jakarta, Kamis (7/5/2015).

Menurut Lula, banyak wanita tak menyadari adanya bahaya dari asap hasil memasak di dapur. Wanita di Indonesia sering kali memasak yang penuh dengan asap, seperti menggoreng. Padahal, menurut Lula dampaknya bisa dari sekedar batuk-batuk saat menghirup asap yang berasal dari dapur.

Lula mengatakan, asap termasuk oksidan yang dapat merusak sel dalam tubuh jika dihirup dalam jangka panjang. Paparan asap juga bisa merusak kulit. Bahkan menurutnya jika paparan asap cukup parah dalam jangka panjang, dapat memicu terjadinya kanker nesofaring.

Kanker nesofaring adalah kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung. "Jadi jangan meremehkan asap dapur," imbuh ibu empat anak ini.

Lula menambahkan, pentingnya ventilasi udara di rumah. Jika asap dari masakan di dapur cukup banyak, tentunya berbahaya bagi rumah yang kurang ventilasi.

Thursday, March 26, 2015

Green Building Tidak Hanya Sekedar Pencitraan

JEGEG-BEAUTY,Jangan sakit hati jika teman sekantor tidak menyambut baik kehadiran Anda saat menderita sakit, terutama influenza. Dalam gedung yang tertutup dan menggunakan penyejuk udara, virus flu akan berputar dalam ruangan sehingga membuat karyawan lain ikut sakit.

Yanu Aryani dari Konsil Bangunan Hijau Indonesia (KBHI) menuturkan, pekerja kantoran menghabiskan sekitar 80 persen waktunya di dalam gedung.

Mereka rawan terkena sindrom bangunan sakit (sick building syndrome/SBS). Gangguan ini menjadi pembicaraan awal 1970-an ketika harga minyak melejit sehingga pengoperasian gedung menjadi mahal akibat borosnya penggunaan energi untuk pendinginan dan pencahayaan.

Guna menekan konsumsi energi, para ahli menemukan teknologi insulasi yang membuat gedung kedap udara sehingga energi untuk pendingin ruangan berkurang. Sejak itu muncul keluhan pusing, iritasi mata dan hidung, rasa gamang, lelah, serta sesak napas pada sejumlah pengguna gedung.

Keluhan itu dikenal sebagai SBS. ”Ketika keluar dari ruangan gejalanya hilang,” kata Faisal Yatim, dokter yang menulis buku tentang SBS.
Selain SBS yang tidak permanen, ada gangguan kesehatan terkait gedung, yaitu building related illness (BRI), yang bersifat permanen, bahkan bisa berujung pada kematian. Gejala awal bisa berupa influenza, berlanjut radang paru (pneumonia), hingga kematian.

Penelitian intensif SBS dilakukan oleh Tony Pickering, dokter dari Wythenshawe Hospital, di dekat kota Manchester, Inggris. Hasil penelitian menunjukkan, hanya sedikit gejala SBS terjadi di gedung yang berventilasi alami di mana banyak mikroorganisme. Sebaliknya, gejala SBS ditemukan pada gedung-gedung dengan penyejuk udara dengan jumlah mikroorganisme rendah. Kesimpulannya, SBS tidak berkaitan dengan jumlah mikroorganisme.

Pada gedung ber-AC, polusi dalam ruangan, antara lain asap rokok, emisi material (bangunan dan perkakas kantor), partikel dan mikroba, menjadi penyebab SBS. Penyebab BRI adalah mikroorganisme, terutama bakteri Legionella.
Menurut Yanu, SBS bisa menurunkan produktivitas karyawan dan keuntungan perusahaan. Karena itu, pekerja dan manajemen kantor perlu mengetahui penyebab dan merekayasa kondisi gedung untuk mengurangi risiko SBS.

Penyerap polutan

Tanaman dalam ruangan yang semula dianggap sebagai pemanis dan penyegar ruangan ternyata memiliki peran untuk mengurangi risiko SBS.

Hal itu sejalan dengan hasil penelitian Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) awal 1970-an. Penelitian NASA menemukan jenis-jenis tanaman yang mampu mengurangi konsentrasi polutan di dalam ruangan, terutama tiga polutan utama, yaitu benzena, trikhloroetilen (TCE), dan formaldehid.

Benzena terdapat pada tinta, minyak, karet, zat pewarna, deterjen, obat-obatan, serta bahan-bahan mudah meledak, seperti gas pada korek api. TCE terdapat pada zat untuk dry clean, cat, pernis, dan beragam lem. Zat TCE dapat menyebabkan kanker hati. Formaldehid ada pada kayu lapis, tisu, kertas pembersih, cairan penghalus kain, lapis bawah karpet, asap rokok, dan minyak tanah.

Bintang Nugroho dari KBHI mengatakan, sejumlah tanaman itu ada di Indonesia, misalnya lidah mertua (Sansevieria), palem bambu, kuping gajah (Aglaonema), beringin, garbera yang biasa kita jadikan bunga potong, puring (Janet crane), dan hanjuang (Marginata).

Menurut Bintang, efektivitas dan optimasi hasilnya penyerapan polutan bergantung pada posisi tanaman. ”Untuk pengaturan letak perlu konsultasi dengan ahlinya,” katanya. Pada akhirnya, bangunan sehat sebenarnya merupakan salah satu wajah dari bangunan hijau (green building). Selain mengurangi polutan dalam ruangan, agar menjadi gedung yang sehat, dibutuhkan pengaturan penggunaan energi secara efektif dan pengaturan sirkulasi udara segar dalam ruangan.

”Saat ini banyak klaim green building sekadar untuk pencitraan perusahaan. Untuk menghindari hal itu perlu pihak ketiga untuk melakukan penilaian,” kata Bintang. Menetapkan sebuah gedung sudah ”hijau” atau belum merupakan salah satu tugas KBHI.