Showing posts with label roko. Show all posts
Showing posts with label roko. Show all posts

Wednesday, April 1, 2015

Rokok Bisa Picu Kuman TB

JEGEG-BEAUTY, Banyak orang yang sudah tertular kuman tuberkulosis (TB), tetapi tidak sakit. Hal itu terjadi karena kuman TB hanya "tidur" di dalam tubuh atau dikenal dengan TB laten. Jika daya tahan tubuh seseorang menurun, kuman TB dapat bangkit sehingga membuat seseorang sakit TB.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan RI Tjandra Yoga Aditama mengatakan, salah satu hal yang bisa membangkitkan kuman TB adalah merokok."Sebanyak 20 persen TB berhubungan dengan rokok. Perokok dua sampai tiga kali lebih sering sakit kalau sudah TB laten. Menurut penelitian, orang perokok TB jadi lebih sering kambuh," kata Tjandra beberapa waktu lalu di Jakarta.

Guru Besar Ilmu Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini mengatakan, perokok pun lebih rentan tertular TB. Ia menjelaskan, racun-racun dalam asap rokok dapat merusak paru-paru manusia dan menurunkan daya tahan tubuh. Akibatnya, tubuh tak dapat menangkal kuman TB dan mengaktifkan kuman TB laten.

Pasien TB pun harus berhenti merokok. Jika tidak, TB akan sulit disembuhkan atau menjadi penyakit yang lebih parah."Kalau merokok, pengobatannya jadi lebih lama. Jika setelah sembuh lalu kembali merokok, ya bisa kambuh lagi," ujar Tjandra.

Menurut Tjandra, masalah rokok penting ditanyakan kepada pasien TB. Dokter harus menanyakan apakah pasien TB memiliki kebiasaan merokok. Dokter kemudian akan meminta pasien untuk berhenti merokok.

Bahkan, dokter bisa membantu pasien melakukan langkah-langkah untuk berhenti merokok. Setelah sembuh, pasien TB perokok pun sebaiknya dikontrol agar tidak kembali merokok.

Untuk mengobati penyakit ini, pasien TB harus rutin minum obat selama 6 bulan. Jika tidak patuh minum obat atau berhenti di tengah jalan, pasien bisa menjadi kebal dengan obat atau multidrug resistance (MDR) TB. Pengobatan akan menjadi lebih lama, yakni 1,5 hingga 2 tahun.

Thursday, March 26, 2015

Green Building Tidak Hanya Sekedar Pencitraan

JEGEG-BEAUTY,Jangan sakit hati jika teman sekantor tidak menyambut baik kehadiran Anda saat menderita sakit, terutama influenza. Dalam gedung yang tertutup dan menggunakan penyejuk udara, virus flu akan berputar dalam ruangan sehingga membuat karyawan lain ikut sakit.

Yanu Aryani dari Konsil Bangunan Hijau Indonesia (KBHI) menuturkan, pekerja kantoran menghabiskan sekitar 80 persen waktunya di dalam gedung.

Mereka rawan terkena sindrom bangunan sakit (sick building syndrome/SBS). Gangguan ini menjadi pembicaraan awal 1970-an ketika harga minyak melejit sehingga pengoperasian gedung menjadi mahal akibat borosnya penggunaan energi untuk pendinginan dan pencahayaan.

Guna menekan konsumsi energi, para ahli menemukan teknologi insulasi yang membuat gedung kedap udara sehingga energi untuk pendingin ruangan berkurang. Sejak itu muncul keluhan pusing, iritasi mata dan hidung, rasa gamang, lelah, serta sesak napas pada sejumlah pengguna gedung.

Keluhan itu dikenal sebagai SBS. ”Ketika keluar dari ruangan gejalanya hilang,” kata Faisal Yatim, dokter yang menulis buku tentang SBS.
Selain SBS yang tidak permanen, ada gangguan kesehatan terkait gedung, yaitu building related illness (BRI), yang bersifat permanen, bahkan bisa berujung pada kematian. Gejala awal bisa berupa influenza, berlanjut radang paru (pneumonia), hingga kematian.

Penelitian intensif SBS dilakukan oleh Tony Pickering, dokter dari Wythenshawe Hospital, di dekat kota Manchester, Inggris. Hasil penelitian menunjukkan, hanya sedikit gejala SBS terjadi di gedung yang berventilasi alami di mana banyak mikroorganisme. Sebaliknya, gejala SBS ditemukan pada gedung-gedung dengan penyejuk udara dengan jumlah mikroorganisme rendah. Kesimpulannya, SBS tidak berkaitan dengan jumlah mikroorganisme.

Pada gedung ber-AC, polusi dalam ruangan, antara lain asap rokok, emisi material (bangunan dan perkakas kantor), partikel dan mikroba, menjadi penyebab SBS. Penyebab BRI adalah mikroorganisme, terutama bakteri Legionella.
Menurut Yanu, SBS bisa menurunkan produktivitas karyawan dan keuntungan perusahaan. Karena itu, pekerja dan manajemen kantor perlu mengetahui penyebab dan merekayasa kondisi gedung untuk mengurangi risiko SBS.

Penyerap polutan

Tanaman dalam ruangan yang semula dianggap sebagai pemanis dan penyegar ruangan ternyata memiliki peran untuk mengurangi risiko SBS.

Hal itu sejalan dengan hasil penelitian Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) awal 1970-an. Penelitian NASA menemukan jenis-jenis tanaman yang mampu mengurangi konsentrasi polutan di dalam ruangan, terutama tiga polutan utama, yaitu benzena, trikhloroetilen (TCE), dan formaldehid.

Benzena terdapat pada tinta, minyak, karet, zat pewarna, deterjen, obat-obatan, serta bahan-bahan mudah meledak, seperti gas pada korek api. TCE terdapat pada zat untuk dry clean, cat, pernis, dan beragam lem. Zat TCE dapat menyebabkan kanker hati. Formaldehid ada pada kayu lapis, tisu, kertas pembersih, cairan penghalus kain, lapis bawah karpet, asap rokok, dan minyak tanah.

Bintang Nugroho dari KBHI mengatakan, sejumlah tanaman itu ada di Indonesia, misalnya lidah mertua (Sansevieria), palem bambu, kuping gajah (Aglaonema), beringin, garbera yang biasa kita jadikan bunga potong, puring (Janet crane), dan hanjuang (Marginata).

Menurut Bintang, efektivitas dan optimasi hasilnya penyerapan polutan bergantung pada posisi tanaman. ”Untuk pengaturan letak perlu konsultasi dengan ahlinya,” katanya. Pada akhirnya, bangunan sehat sebenarnya merupakan salah satu wajah dari bangunan hijau (green building). Selain mengurangi polutan dalam ruangan, agar menjadi gedung yang sehat, dibutuhkan pengaturan penggunaan energi secara efektif dan pengaturan sirkulasi udara segar dalam ruangan.

”Saat ini banyak klaim green building sekadar untuk pencitraan perusahaan. Untuk menghindari hal itu perlu pihak ketiga untuk melakukan penilaian,” kata Bintang. Menetapkan sebuah gedung sudah ”hijau” atau belum merupakan salah satu tugas KBHI.